1. Home
  2. ยป
  3. Creator
21 Februari 2020 18:34

Di balik performa buruk film Harley Quinn: Birds of Prey

Membela yang dipercaya dan disayangi memang sah-sah saja selama masuk akal dan tidak memaksa. Harry Rezqiano

Saya suka nonton film. Itu adalah hobi menyenangkan. Membaca komik dan bermain video game juga hobi menyenangkan. Saya kira hobi seperti itu juga dimiliki orang-orang di luar sana; terlepas dari usia, gender, pandangan politik atau hal-hal personal lain. Hobi haruslah dinikmati tanpa tendensi ataupun agenda-agenda tertentu. Tapi sepertinya beberapa orang dari pegiat paham feminisme tidak memiliki pandangan demikian dan selalu mencari celah dari sebuah produk hiburan (seperti film) untuk mempromosikan agenda feminisme mereka pada dunia.

Contoh terkini dari aksi mereka terlihat dalam situasi film Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Queen(atau belakangan memakai judul lebih pendek, Harley Quinn: Birds of Prey).


Film terkini dari deretan film DC Comics ini sedang tayang di berbagai bioskop dunia, namun sayang tidak terlalu laris di pasaran jika melihat pendapatan opening weekend (yang biasa jadi patokan sukses tidaknya sebuah film bioskop versi Hollywood).

Di Amerika film itu meraih $ 33,25 juta dan di luar Amerika Birds of Preymenghasilkan $ 48 juta. Tidak terlalu buruk kalau melihat budget produksi yang konon sekitar $ 84 juta. Tapi pendapatan opening weekend tadi tetap termasuk rendah; apalagi jika dibandingkan film superheroes dengan tokoh utama cewek lainnya dari DC Comics, Wonder Woman, yang sampai $ 223 juta. Atau bahkan dengan film 'gagal' DC Comics sebelumnya yaitu Suicide Squaddi angka $ 267 juta. Dan Harley Quinn cuma salah satu tokoh di Suicide Squad! Berbeda dengan dalam Birds of Preydi mana dia adalah tokoh utamanya.

Harley Queen bersama Birds of Prey (Sumber gambar: Mashable India)

Menganggap film Birds of Preyadalah film feminisme (ditambah lagi komentar aktor pendukung film itu, Ewan McGregor, dalam sebuah wawancara), kelompok feminis garis keras ramai-ramai menyalahkan publik (atau lebih tepatnya para lelaki kulit putih se-Amerika) atas rendahnya pendapatan yang dihasilkan film berisi jagoan-jagoan cewek dari komik DC Comics ini. Berbagai cuitan di Twitter bernada Orang benci film ini karena mereka sexist! bertebaran di internet. Yang mana itu absurd; bahkan untuk fans DC Comics normal seperti saya. Karena memang ngawur membawa-bawa faktor tidak terukur untuk mencari penyebab kenapa film aksi seru seperti Birds of Prey, yang sudah saya tonton di bioskop, mengalami underperformed alias tidak selaris harapan.

Bagaimana dengan faktor pemasaran? Promosi? Di tengah bayang-bayang outbreak virus COVID-19, kegiatan outdoor seperti premiere atau sejenisnya di daerah potensial seperti Cina jelas dihindari para aktor maupun aktris. Sementara selama ini pasar Tiongkok menjadi salah satu penyumbang terbesar jumlah penonton film Hollywood. Tapi saat ini? Orang di sana pasti lebih memilih tetap di dalam rumah sampai ancaman virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut lenyap. Film Birds of Preybisa sajaterpengaruh situasi itu. Dan alasan seperti itu jauh lebih logis ketimbang mengacungkan jari dan berteriak Dasar misogynist! di internet karena film yang didukung tidak menghasilkan laba seperti harapan.

(Sumber gambar: CGV Cinema)

Tapi sepertinya memainkan kartu feminisme dirasa tidak cukup sehingga beberapa feminis mencari alasan lain untuk membela Birds of Prey,yaitu dengan menyerang film Sonic the Hedgehog.

Performa film Sonic the Hedgehogdi box office sedang bagus-bagusnya. Dalam waktu empat hari saja mereka bisa menghasilkan $ 113 juta; Birds of Preybutuh waktu lebih dari dua minggu penayangan untuk mencapai angka yang sama. Team kreator film Sonic mengalahkan film berbasis video game sebelumnya, Detective Pikachu, dan mereka merayakannya bersama fans; seperti terlihat lewat tweetsalah satu crew film ini.

Tapi sepertinya kelompok feminis tidak membiarkan mereka dalam kesenangan, dengan nyinyiran yang mengatakan bodoh kalau orang malah memilih nonton film tentang makhluk alien dibandingkan jagoan cewek. Yang mana itu menurut saya menyedihkan. Bukan untuk Sonic-nya, tapi untuk kelompok feminis garis keras yang mati-matian membela Birds of Preydari tekanan harus menghasilkan uang banyak.

Terus terang saja, aksi-aksi seperti itu malah makin memojokkan dan merusak citra film Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Queendi mata publik (baca: lelaki yang diserang kelompok feminis). Saya sebagai fans DC Comics tentu juga mengharapkan film itu laris di pasaran. Tapi tanpa embel-embel sebagai film edukasi tentang feminisme dan misogynis atau agenda-agenda feminisme lain. Itu cuma film komik. Nikmati tanpa politik kan bisa?

(Sumber gambar: Sufficient Velocity)

Dan buat apa juga menyindir orang yang lebih memilih film Sonic the Hedgehogketimbang nonton Birds of Prey? Freedom of Choice. Orang bebas memilih di negara demokrasi. Atau di negara apa pun. Saya tidak ada masalah dengan feminisme, agenda feminisme, atau apalah dari kelompok-kelompok seperti itu. Cuma kalau sampai menyebabkan kerusakan citra dari yang saya sukai (dalam hal ini DC Comics, walau mereka terkadang merusak diri sendiri dengan agenda feminisme juga), rasanya saya gatal untik tidak berkomentar.

Film Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Queendan Sonic the Hedgehogsama bagusnya; walau saya belum nonton Sonic saat tulisan ini dibuat (karena belum masuk di bioskop Indonesia). Jadi ayo pergi ke bioskop dan tonton keduanya!

(brl/red)

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags