1. Home
  2. ยป
  3. Creator
21 Oktober 2020 09:42

Berapa carbon footprint yang kamu hasilkan? Cek 5 faktanya berikut ini

Apa pun aktivitas kita akan berdampak bagi Bumi. Rian Kusuma Dewi

Pernahkah terpikirkan bagaimana dampak setiap aktivitas kita terhadap Bumi? Jika kita menikmati daging sapi lezat asal New Zealand, apa dampaknya bagi Bumi? Jika kita lebih senang bersepeda ke tempat kerja, memang benar ya akan berdampak baik bagi Bumi?

Selayaknya setiap tindakan memiliki konsekuensi, setiap aktivitas yang dilakukan manusia tidak bisa lepas dari carbon footprint. Sebenarnya apa itu carbon footprint? Seberapa banyak carbon footprint yang kita hasilkan? Dan apa yang bisa kita lakukan? Yuk, cek lima fakta carbon footprint berikut.


Carbon footprint dan emisi rumah kaca.

Konsep carbon footprint awalnya tumbuh dari gagasan ecological footprint yang dicetuskan oleh Willian Rees dan Mathis Wackernagel. Ecological footprint adalah total luas lahan yang dibutuhkan untuk menopang suatu aktivitas atau sebuah populasi, termasuk dampak lingkungan, seperti penggunaan air dan jumlah lahan yang digunakan untuk produksi pangan.

Carbon footprint secara umum didefinisikan sebagai jumlah karbon atau gas emisi rumah kaca yang dihasilkan dari setiap aktivitas manusia dalam kurun waktu tertentu, di mana biasanya dihitung dengan satuan ton ekuivalen CO2.

Gas rumah kaca sendiri merupakan gas di atmosfer Bumi yang akan menyerap dan memantulkan kembali radiasi sinar matahri kembali ke permukaan Bumi dan menyebabkan efek rumah kaca. Meskipun gas rumah kaca secara natural memang ada, namun semenjak revolusi industri dengan segala peningkatan aktivitas manusia yang lebih kompleks, produksi rumah kaca semakin meroket. Beberapa jenis gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama pemanasan global di antaranya adalah karbon dioksida (CO2), gas metana (CH4), uap air (H2O), Nitrogen Oksida (N2O), dana ozon (O3).

Efek gas rumah kaca terutama diketahui sebagai penyebab peningkatan suhu di Bumi, perubahan iklim, serta pemanasan global. Selain itu carbon footprint memiliki spektrum dampak luas bagi kehidupan manusia seperti penyebab terjadinya bencana alam, perubahan produksi rantai makanan, penyebaran penyakit, rusaknya ekosistem laut, mencairnya es di kutub, serta berkurangnya air bersih.

Yuk, ukur carbon footprint kita.

Carbon footprint menjadi sarana penting untuk memahami bagaimana dampak perilaku setiap individu terhadap pemanasan global. Semakin tinggi nilai indeks carbon footprint yang kita hasilkan secara individu menunjukkan semakin tinggi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer kita serta semakin banyak proporsi keterlibatan kita terhadap pemanasan global. Sehingga jika ingin berkontribusi membantu menghentikan pemanasan global, setidaknya dalam skala individu, kita perlu mengukur dan melacak carbon footprint kita.

Beberapa website menyediakan layanan kalkulator online untuk mengukur carbon footprint, di antaranya footprint.wwf.org.uk, offset.climateneutralnow.org/footprintcalc, dan terrapass.com/carbon-footprint-calculator. Kita akan diminta mengisi selayaknya kuesioner untuk mengetahui bagaimana pola makan, seberapa sering kita menggunakan kendaraan dan pesawat, hingga jenis listrik yang kita gunakan di rumah.

Meskipun tidak bisa memberikan hasil yang akurat karena angka-angka yang diberikan merupakan estimasi, namun tidak ada salahnya mencoba agar kita memiliki gambaran tentang apa akivitas yang tampaknya menyumbang carbon footprint tinggi sehingga menjadi dasar bagi kita untuk mulai memperbaikinya. Yuk, coba hitung berapa carbon footprint kita!

Penduduk negara maju lebih tinggi menghasilkan carbon footprint. Carbon footprint per kapita tertinggi dihasilkan oleh Amerika Serikat. Berdasarkan laporan Carbon Dioxide Information Analysis Center and the United Nations Development Programme pada tahun 2004, rata-rata penduduk Amerika Serikat memiliki jejak karbon per kapita setara dengan 20,6 metrik ton CO2, di mana jumlah tersebut sekitar lima hingga tujuh kali carbon footprint global.

Carbon footprint dan food waste.

Makanan yang ada di piring kita menjadi salah satu sumber utama carbon footprint. Proses bagiamana makanan hingga ada di piring kita, mulai dari ekstrasi bahan, proses produksi, dan proses distribusi berkaitan erat dengan carbon footprint.

Berdasarkan data Center for Sustainable Sytem, University of Michigan, carbon footprint dari makanan menjadi 30% penyumbang dari total carbon footprint rumah tangga. Ditambahkan sebuah penelitian yang dipublikasikan di American Association for the Advancement of Science tahun 2018, menyatakan rantai makanan menjadi 26% kontributor total emisi gas rumah kaca. Angka yang cukup besar, ya.

Meskipun para peneliti belum menemukan bagaimana pola makan yang paling ramah lingkungan, sebagian besar ahli sepakat mengurangi konsumsi daging merah merupakan pilihan terbaik menjaga lingkungan. Produksi daging merah memerlukan energi yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan pakan, air, dan lahannya. Sapi sendiri juga menjadi salah satu penyumbang terbesar metana di atmosfer. Apalagi jika daging yang kita makan merupakan daging impor yang menempuh jarak jauh sehingga meningkatkan polusi dari sektor transportasi.

Dalam penelitian yang di-publish di jurnal Environtmental Research Letters, konsumsi daging merah memiliki dampak lingkungan 100 kali lipat dari makanan bersumber nabati. Sebagai perbandingan, menurut perkiraan satu porsi daging sapi menghasilkan 6 pon karbondioksida sedangkan total dari satu porsi sajian yang terdiri dari beras, wortel, apel, dan kentang hanya menghasilkan kurang dari setengah pon.

Carbon footprint dan travelling.

Bepergiaan menggunakan kendaraan juga diketahui menjadi penyumbang terbesar carbon footprint selain food waste. Hal ini diakibatkan kendaran yang mayoritas masih menggunakan bahan bakar berbahan fosil seperti bensin, solar atau gas yang seperti kita tahu akan menghasilkan jejak karbon dari proses pembakaran bahan bakar tersebut.

Mengutip berita di New York Times berjudul How to Reduce Your Carbon Footprint pada tahun 2017, emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari mode transportasi menjadi sumber utama gas rumah kaca. Ditambahkan sebuah penelitian dari Lund University dan the University of British Columbia pada tahun 2017, tidak menggunakan mobil selama satu tahun dapat mengurangi 2,6 ton karbon dioksida. Di mana diperkirakan setiap liter bahan bakar yang dibakar dalam mesin mobil mengeluarkan lebih dari 2,5 Kg CO2.

Di Indonesia sendiri menurut data WRI Indonesia pada tahun 2012, sektor transportasi menjadi penyumbang 46% dari total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Ibu kota Jakarta.

Apa yang bisa kita lakukan?

Banyak loh hal yang terlihat simpel namun dapat turut mengurangi carbon footprint, di antaranya dengan mengurangi konsumsi bahan makanan impor, mengurangi konsumsi makanan dengan jejak karbon tinggi seperti daging sapi dan kopi serta sebagai gantinya tingkatkan konsumsi plant-based food.

Selain itu penting juga penting memperhatikan moda transportasi yang akan kita gunakan, jika akan melakukan perjalanan dengan jarak tidak terlalu jauh cukup jalan kaki atau gunakan sepeda. Atau jika perlu naik kendaraan pastikan menggunakan kendaraan yang hemat bahan bakar dan energi. Dan terakhir yang paling penting jangan lupa share informasi tentang carbon footprint ini.

(brl/red)

Source:

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags