1. Home
  2. ยป
  3. Creator
19 September 2019 15:00

Belum dirilis luas, film Joker sudah menuai reaksi nyinyir di internet

Film DC Comics "Joker" yang belum dirilis secara luas sudah mendapat nyinyiran dari Social Justice Warrior di internet. Harry Rezqiano

Tahu istilah SJW alias Social Justice Warrior? Secara sederhana istilah ini merujuk pada individu atau kelompok yang merasa melakukan penegakan keadilan sosial di internet. Terdengar bagus dan mulia? Secara teori memang benar. Namun pada praktiknya istilah ini lebih merujuk ke arah yang melenceng dari tujuan mulia tadi.

Social Justice Warrior lebih condong ke arah karakter antagonis di berbagai kasus dan situasi di mana mereka terlibat (atau melibatkan diri). Penyebabnya bisa berbagai hal; namun secara umum disebabkan karena kebanyakan dari mereka nyinyir saat menyikapi satu kasus/situasi sehingga alih-alih meraih simpati publik para SJW ini lebih sering bikin kesal dan dapat umpatan ketimbang dukungan.


Contoh terbaru misalnya di kasus film Joker yang dibintangi Joaquin Phoenix dan disutradarai Todd Phillips.

Sumber gambar: What Culture

Belum lagi dirilis secara resmi di bioskop-bioskop dunia, film yang baru saja diputar premiere di Festival Film Venice itu sudah mendapat cibiran dari mereka yang dikenal sebagai SJW.

Berbeda dengan kritikus film yang memberikan apresiasi dan pujian tinggi untuk film berdasarkan karakter The Joker, musuh Batman dari DC Comics tersebut, para SJW justru menyorot aspek yang sebenarnya bisa dibenarkan, namun tidak tepat sasaran ke film ini. Yaitu soal glorifikasi/pemujaan berlebih akan pembunuhan massal sebagai hal yang logis serta kerusakan syaraf pria kulit putih oleh sistem (sosial) sehingga membenarkan perilaku kekerasan.

Saya tidak ingin ditunjukkan kalau pria miskin dan tidak beruntung ini melakukan apa yang dia lakukan (kejahatan) karena dipaksa keadaan. Saya tidak mau memberikan simpati pada orang yang penuh citra sebagai pembunuh, perampok dan bahkan mungkin pemerkosa di film selama dua jam itu, komentar salah satu SJW bernama Rachel Miller soal film Joker. Saya juga tidak ingin hal/film ini dijual dengan pemikiran kalau cerita di film ini dapat terjadi pada siapa saja di hari yang buruk, dan saya tidak ingin dekat-dekat dengan pria kulit putih kesepian yang memandang film itu mewakili dirinya, sambungnya lagi.

Rekannya sesama SJW, Heather Antos, mengamini pendapat Miller dengan menambahkan kalau seseorang sering termotivasi melakukan kekerasan dari karya-karya fiksi (seperti film).

Sumber gambar: What Culture

Menurut saya itu sebuah konklusi yang berlebihan. Manusia, secara umum, tidak akan termotivasi untuk melakukan kekerasan setelah melihat atau menikmati satu bentuk karya fiksi yang memuat konten tersebut. Karena secara umum manusia berakal sehat akan dapat membedakan hal-hal yang tepat di masyarakat ataupun sebaliknya.

Melihat karakter kanibal di film seperti Hannibal Lecter Silence of the Lambs (1991) tidak akan mengubah manusia sehat mental untuk ikut menjadi kanibal pemakan daging manusia juga.

Film psikologi yang menegangkan (Sumber gambar: Den of Geek)

https://www.youtube.com/watch?v=W6Mm8Sbe__o

Pengecualian tentu ada karena tidak semua manusia dalam kehidupan bermasyarakat sama dalam hal kesehatan mental. Tapi itu kasuistik dengan rasio kejadian yang sangat-sangat rendah. Sehingga menuding karya fiksi kekerasan akan membuat orang termotivasi melakukan kekeasan yang sama merupakan hal yang maksa. Saya penggemar video game kekerasan bertema perkelahian seperti Street Fighter, tapi saya tidak kemudian pergi ke luar dan berkelahi di jalanan gara-gara kegemaran saya tadi.

Jadi kalau menganggap film Joker akan menjadikan penontonnya sama dengan karakter di film tersebut rasanya bisa dianggap lebay alias terlalu berlebihan.

Sumber gambar: Know Your Meme

Bagaimanapun film ini mengekspose dunia kejam yang akhirnya menuntun Arthur Fleck menjadi monster. Tapi pada akhirnya, dia tetaplah monster (terlepas dari hal-hal dunia yang menjadikannya seperti itu), menurut website CBR.com saat membahas korelasi kekerasan di film Joker dengan ajakan untuk tidak menonton film tersebut oleh para SJW internet.

The Joker memang bukan karakter superhero. Dia sama sekali bukan orang baik. Pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan? Joker adalah kebalikan dari semua itu. Tapi mengatakan kalau film yang menceritakan asal mula kegilaannya sebagai inspirasi untuk melakukan hal sama merupakan satu kelebayan SJW dan semakin menambah jelek citra mereka sebagai kelompok nyinyir yang tidak bisa menawarkan solusi konstruktif saat menunjukkan ketidaksukaan mereka akan sesuatu.

https://www.youtube.com/watch?v=zAGVQLHvwOY

(brl/red)

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags