1. Home
  2. ยป
  3. Creator
3 Februari 2021 10:45

4 Film superheroes yang tak pernah mencapai proses produksi

Siapa tidak suka film superheroes? Tahukah kamu kalau ada beberapa film superheroes yang nyaris dibuat? Harry Rezqiano

Siapa tidak suka film superheroes? Rasanya hampir semua orang suka film dengan genre superheroes. "Hampir semua" karena tentu saja ada yang tidak nge-fans film dengan tema pahlawan pembela kebenaran dan keadilan seperti ini. Beberapa di antara mereka malah bilang kalau film-film superheroes itu bukanlah sinema, seperti komentar sutradara kawakan Martin Scorsese yang menimbulkan kontroversi saat itu.

Memang kalau dilihat sepintas, film superheroes lebih berorientasi aksi dengan sedikit cerita drama dan komedi sebagai ramuan. Tapi menyebutnya sebagai "bukan sinema" rasanya terlalu berlebihan karena semua film layak disebut sinema, apalagi jika diputar di teater layaknya film bioskop.


Martin Scorsese. Foto: Marketwatch

Sebagai genre laris dan populer lebih dari satu dekade terakhir (sedikit banyak dipengaruhi Disney dan Marvel Studios dengan Marvel Cinematic Universe), tentu para produser tidak keberatan membuat berbagai film superheroes. Potensi profit tinggi dari film superheroes jelas menggiurkan walau tidak semua film superheroes memenuhi (atau melewati) harapan pembuatnya.

Beberapa film superheroes bahkan tidak pernah mencapai proses produksi setelah berbagai perencanaan dilakukan. Ada banyak alasan, terutama ongkos produksi, yang menjadikan pembuatan film superheroes hanya sampai di tahap pra produksi (atau bahkan perencanaan di atas kertas) saja. Sedikit disayangkan karena film-film superheroes yang gagal dibuat ini sepertinya punya potensi laris di pasaran. Namun pihak produser mungkin tidak melihat kemungkinan itu. Atau mereka terlalu takut untuk berspekulasi.Beberapa film superheroes yang gagal dibuat antara lain sebagai berikut.

1. Superman Lives oleh Tim Burton dengan aktor Nicolas Cage.

Foto: Haphazard Stuff

Tim Burton adalah sutradara nyentrik yang sukses menghidupkan kembali Batman setelah berpuluh-puluh tahun padam di layar tontonan. Dua film Batman buatannya, Batman (1989) dan Batman Returns(1992), sukses di pasaran dan di kalangan kritikus sehingga Warner Bros. sebagai produser setuju saat Burton ingin menghidupkan Superman setelah film terakhir Superman (Superman IV: The Quest for Peace tahun 1987) gagal total.

Tim Burton memulai proyek film baru Superman ini tahun 1997 dengan aktor Nic Cage (yang juga terkenal sebagai fans berat komik Superman) sebagai Clark Kent/Superman dengan Kevin Spacey memerankan Lex Luthor. Namun proses pra produksi berjalan lamban dengan penulisan skenario berubah-ubah dan ditambah lagi biaya terus membengkak memaksa Warner Bros membatalkan pembuatan film Superman yang diberi nama Superman Livesitu. Warner sendiri pada akhirnya membuat film baru Superman juga berjudul Superman Returnsnamun dengan sutradara dan aktor berbeda (walau Kevin Spacey akhirnya tetap jadi berperan sebagai Lex Luthor).

2. Batman vs Superman oleh Wolfgang Peterson dengan aktor Colin Farrel.

Foto: Superhero Hype

Kita pada akhirnya memang mendapatkan film Batman vs Superman karya Zack Snyder, namun jauh sebelumnya Wolfgang Peterson (sutradara film Air Force One-nya Harrison Ford) tahun 2001 punya rencana menciptakan film duel Batman dengan Superman yang bahkan sepertinya lebih gelap dibandingkan versi Snyder. Bayangkan ini: kisahnya terjadi lima tahun setelah Bruce Wayne pensiun sebagai Batman dengan pemakaman Alfred Pennyworth. Clark Kent/Superman baru bercerai dari Lois Lane. Istri Bruce dibunuh The Joker sehingga dia kembali memakai kostum Batman dan mencari The Joker untuk balas dendam tapi Superman berusaha mencegahnya membunuh The Joker. Terasa lebih personal dibandingkan versi Zack Snyder?

Colin Farrel direncanakan sebagai Batman dan Jude Law memerankan Superman. Sayang Warner Bros. merasa konsep ini tidak bagus dan akhirnya membatalkan proyek secara keseluruhan. Tapi art poster untuk film ini bisa dilihat sebagai easter egg di film I Am Legend(2007) Will Smith jika kamu cukup jeli memperhatikan latar belakang.

3. Spider-Man oleh James Cameron dengan aktor tidak diketahui sebagai pemeran utama.

Foto: Slash Film

Sebelum akhirnya film bioskop Spider-Man buatan Sam Raimi dengan aktor Tobey Maguire melejit tahun 2002, ada James Cameron yang punya ide cerita film Spider-Man tahun 1993 saat dirinya masih mengerjakan film keren True Lies (1994). Bagian menariknya adalah konsep cerita Spider-Man yang akan dibuat Cameron jauh lebih bernuansa dewasa dibandingkan versi Raimi, dengan adegan dewasa antara Peter Parker dan Mary Jane serta deretan aksi penuh kekerasan dari supervillains seperti Electro dan Sandman. Terdengar khas James Cameron banget mengingat dia membuat film aksi seperti Terminator, True Lies maupun Aliens.

Tapi mungkin karena dianggap terlalu dewasa, proses pra produksi Spider-Man versi Cameron terkatung-katung hingga akhirnya Sam Raimi dan visi misinya di Spider-Man yang diterima pihak produser. Bukan hal buruk juga mengingat film trilogi Spider-Man karya Sam Raimi sukses besar baik secara finansial maupun kritik (kecuali mungkin untuk film ketiga yang dinilai tak sebagus dua sebelumnya). Tapi seandainya film Spider-Man versi James Cameron yang dibuat, bisa jadi arah Spider-Man akan jauh dari aksi bercampur komedi seperti yang sekarang dijalani film-film Spider-Man.

4. Batman: Year One oleh Darren Aronofsky dengan aktor Joaquin Phoenix.

Foto: Screen Rant

Ini menarik karena pada akhirnya kisah Batman pada awal-awal "karier" ada di film The Batman karya Matt Reeves yang akan dirilis sebentar lagi. Namun dulu kisah ini hampir dibuat oleh Darren Aronofsky pasca flop-nya film terakhir Batman masa itu: Batman and Robin (1997). Skenario dirancang mengadopsi komik Batman: Year One karya Frank Miller yang sukses di kalangan pembaca komik Batman.

Aronofsky berharap Batman versinya diperankan Joaquin Phoenix (yang lama kemudian sukses berperan di film The Joker dan meraih Piala Oscar untuk perannya itu). Aronofsky juga menginginkan film Batman buatannya dengan rating R alias dewasa dengan kekerasan eksplisit, namun pihak Warner Bros sepertinya enggan menciptakan film Batman seperti itu.

Dibatalkannya film Batman karya Darren Aronofsky membuka jalan film Batman buatan Christopher Nolan yang walau cenderung gelap dan brutal, namun tidak sampai menjurus ke rating R seperti visi misinya Aronofsky. Trilogi Batman buatan Nolan juga sukses besar dengan film ketiga sedikit mengecewakan, persis seperti film Spider-Man karya Sam Raimi setelah gagal dibuatnya Spider-Man versi James Cameron.

Film-film superheroes yang tidak jadi dibuat ini mungkin akan laris atau malah jeblok di pasaran. Kita tidak akan pernah tahu. Namun tetap menarik membaca dan melihat konsep serta potensi yang ada di tiap judul film superheroes ini. Menurut kamu, apakah keputusan tepat membatalkan pembuatan film-film superheroes tadi?

(brl/red)

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
MOST POPULAR
Today Tags