Brilio.net - Tren fashion selalu berubah seiring waktu. Meskipun begitu, batik yang jadi warisan budaya Indonesia tetap memperoleh tempat di hati orang Indonesia. Berbagai jenis dan motif batik terlahir dari tangan-tangan rakyat Indonesia yang berbakat.

Untuk menghadirkan batik-batik menawan hingga sampai ke tangan pembeli dibutuhkan berbagai proses yang nggak sederhana. Salah satu proses penting yang sangat berpengaruh pada nilai jual batik adalah pewarnaan.

Selama ini, untuk menghasilkan warna-warni yang menakjubkan, perajin batik seringkali mempergunakan pewarna sintetis (tekstil).

Sayangnya pewarna sintetis kurang ramah terhadap lingkungan. Limbahnya membuat air dan tanah tercemar. Nggak kebayang kan, kalau kamu tanpa sengaja meminum air yang sudah tak sehat lagi?.

Nah, menyikapi proses pewarnaan yang nggak aman itu, Syaiful Bachri, mahasiswa D3 UGM, mencoba mempergunakan pewarna dari tanaman. Tanaman itu adalah merbau (Intsia bijuga) dan jalawe (Terminalia bellirica).

Mungkin nama tanaman itu asing buat orang awam, tapi bila digunakan  sebagai pewarna batik akan lebih ramah lingkungan, karena mudah dirombak ketika dibuang.   

Selain ramah lingkungan, ternyata mempergunakan pewarna alami dapat membuat batik buatan Syaiful tak kalah eye catching-nya dengan batik dengan pewarna sintetis yang ngejreng abis.

Karya seninya bahkan mampu menghidupkan sudut ruang pameran Hari Bumi di Balai Kota Yogyakarta Minggu (3/5). Dengan mempergunakan pewarna alami, Syaiful memberikan teladan nyata pelestarian budaya negeri sendiri sekaligus lingkungan di bumi pertiwi.