Brilio.net - Tahukah kamu momen-momen sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan oleh Soekarno didampingi Muhammad Hatta. Saat sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB itu, Soekarno sempat memarahi seorang dokter.

Ceritanya begini, saat itu di depan rumah Bung Karno sudah kelihatan ada mikrofon berdiri dengan standardnya. Karena instruksi Sudiro (pemimpin Barisan Pelopor), Barisan Pelopor terus berdatangan ke Pegangsaan Timur 56.

Waktu sudah mendekati pukul 10.00 tetapi Bung Hatta belum juga datang. Muwardi (Kepala Keamanan Ir Soekarno) yang tidak sabaran menunggu masuk ke kamar Bung Karno. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid VI, dijelaskan bahwa Muwardi didesak oleh para pemuda. Muwardi mendesak Bung Karno agar segera mengumumkan Proklamasi sendiri saja tanpa menunggu kedatangan Bung Hatta.

Alasannya karena Bung Hatta sudah menandatangani teks Proklamasi. Pada mulanya Bung Karno menjawab dengan tenang saja, tetapi karena Muwardi mendesak dengan nada marah Bung Karno menjawab: Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada, kalau Mas Muwardi tidak mau tunggu silahkan baca Proklamasi sendiri.

Dialog kedua tokoh ini disaksikan oleh Sudiro dan sesudah itu Muwardi tidak mendesak Bung Karno lagi. Sebetulnya Muwardi melakukan itu karena Sudiro melihat di sekitar Jalan Pegangsaan terlihat seorang Jepang yang sedang bercakap-cakap dengan Sukardjo Wirjopranoto. Keduanya sebenarnya khawatir kalau Proklamasi belum dibacakan sudah diserbu Jepang, sehingga akhirnya Proklamasi gagal.

Tetapi memang Bung Hatta adalah seorang yang selalu memegang teguh, sebelum pukul 10.00 dia tiba. Setelah masuk dalam kamar Bung Karno, tidak lama kemudian mereka berdua keluar dan keluar rumah menuju halaman depan dimana sudah tersedia mikrofon, tiang bendera dan para hadirin dan hadirin yang akan menjadi saksi pembacaan Proklamasi tepat pada pukul 10.00 pagi.

Lantas siapa dr Muwardi. Kini, bagi warga Solo tentu sangat mengenal nama ini karena diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta.

Alkisah pada tahun 1930 di daerah Tanah abang Jakarta ada seorang lelaki bernama Muwardi, yang terkenal sebagai Dokter Muwardi atau biasa disebut Dokter Gembel. Dia dipanggil demikian karena senang bergaul dengan gembel daripada golongan atas.

Golongan masyarakat yang kebanyakan sangat miskin sekaligus orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Pernah karena diminta pertolongan untuk mengobati seorang gembel yang tinggal jauh dalam kampung dengan gang becek dan berlumpur yang hanya kering saat hujan reda. Meskipun hanya gembel, namun gembel tersebut adalah orang yang mempunyai rasa perikemanusiaan yang luhur.

Dia memandangi pakaian Muwardi yang masih bersih tak bernoda sedikit pun, baru ganti itu!, pikirnya. Sayang kalau ia harus jalan di lumpur. Air kotor dan lumpurnya tentu akan segera melekat pada sepatu dan celananya. Tidak!. Jangan! Pak dokter harus tetap bersih, agar dapat segera mengunjungi orang sakit lainnya, Akhirnya mau tidak mau, Muwardi digendong oleh si gembel. Sehingga Muwardi digendong di punggung si gembel dari jalan besar hingga ke rumah si sakit.

Demikian pula pulangnya kembali ke mobil. Begitulah kecintaan rakyat gembel kepadanya. Setiap kalender menunjuk tanggal 13 September, itu adalah tanggal yang patut dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia, sebab pada tanggal 13 September 1930 oleh prakarsa seorang pemuda Muwardi lahirlah kepanduan baru di Jakarta, sebagai penjelmaan dari bersatunya tiga organisasi kepanduan di Indonesia yaitu Pandu Kebangsaan, Pandu Pemuda Sumatra dan Indonesische Nationaal Padvinders Organisatie.

Organisai kepanduan yang menjadi cikal bakal Pramuka itu bernama: Kepanduan Bangsa Indonesia. 18 tahun sesudahnya tepat pada tanggal yang sama yaitu pada tanggal 13 September 1948, Dokter Muwardi berangkat ke rumah sakit Jebres dengan menggunakan kendaraan andong untuk melakukan operasi terhadap seorang pasien, seorang anak yang menderita sakit parah.

Walaupun dilarang oleh anggota staf Barisan Banteng, Dokter Muwardi tetap berangkat. Wis Yo Jeng! (sudah ya Dik!). Dag Pap!, jawab istrinya, Soesilowati. Baru sampai di pintu depan ia kembali karena ada sesuatu yang ketinggalan, lalu berangkat lagi sambil berpamitan sekali lagi Wis yo Jeng!. Istrinya heran dan sambil tertawa menjawab Ah Pap, kok seperti penganten baru!.

Soesilowati tentu tidak akan mengira bahwa kata-kata pamitan Muwardi yang dirasa lucu tersebut merupakan kata-kata terakhir dari suami tercinta. Sebab setelah itu, dokter yang penuh dedikasi itu tidak pulang lagi selama-lamanya, hilang tak tentu dimana.

Dr Muwardi dikenal sebagai seorang pemimpin Indonesia yang telah hidup sederhana, berjuang secara konsekuen dan mati menyedihkan untuk rakyatnya! Rasa kemanusiaan Muwardi yang besar di masa itu kepada sesama patut menjadi cerminan dokter masa kini.