Brilio.net - Kamu pasti sudah tidak asing lagi makan roti dengan ditambah selai kacang atau selai cokelat? Namun, pernahkah kamu mencoba roti dengan selai ubi?

Seorang pemuda, Angga Kusuma Aribowo telah memberikan inovasi baru di dunia perkulineran Indonesia. Angga sejak tahun 2012 mengolah ubi menjadi berbagai varian. Dengan brand Ubiyabi, Angga pernah membuat cheese cake selai ubi, susu ubi dan sebagainya namun belum ada peningkatan yang berarti.

Di Ubiyabi, ubi naik kelas tak lagi berpredikat makanan desa

Kini produk terbaru yang tengah laris di pasaran adalah ubi in the jar. Ubi in the jar adalah selai ubi yang dikemas cantik dalam sebuah toples. Ubi yang digunakan untuk membuat produknya pun khusus ubi ungu. "Ubi ungu memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang baik untuk tubuh. Selain itu antioksidan yang cukup tinggi pada ubi ungu juga mampu mencegah kanker. Dan juga ubi ungu memiliki warna asli yang cantik dan alami," tutur pria kelahiran Kulonprogo, 24 April 1988 ini pada brilio.net, Selasa (13/10).

Ubi in the jar ini mulai dikenalkan ke publik sejak satu tahun yang lalu. Ide ini muncul ketika Angga ingin mengolah ubi ungu yang sering dipandang sebelah mata dan harganya yang murah menjadi sebuah produk yang berkelas dengan nilai jual tinggi. "Ubi in the jar ini terinspirasi dari cake in the jar, jadi kami sekaligus mengenalkan cara baru menikmati ubi yang asik dan kekinian," terang Angga.

Di Ubiyabi, ubi naik kelas tak lagi berpredikat makanan desa

Dengan dibantu istri dan beberapa karyawannya, saat ini omzet Ubiyabi mencapai Rp 10 juta per bulan. Ubi in the jar memiliki sedikitnya 14 varian. Selai ubi di padukan dengan biskuit, green tea cake, red velvet cake, oreo, kacang, coklat, cake ubi, seredara dan aneka macam cream. "Varian best sellernya adalah oreo cheese yum, green tea yum dan red velvet yum atau costumer boleh request sendiri varian rasanya," tambah Angga.

Ubi in the jar ini dikemas dengan dua ukuran yaitu mini jar dan reguler jar. Ubi in the jar mini dihargai Rp 20.000, sedangkan yang ukuran reguler seharga Rp 28.000-35.000, tergantung variannya.

Angga sendiri membutuhkan waktu lebih dari enam bulan untuk menemukan ide ubi in the jar ini. Sempat tidak laku beberapa bulan tidak membuatnya putus asa. Berbekal niat dan keyakinan tinggi, Angga tetap semangat mempromosikan produknya melalui media sosial dan rajin mengikuti pameran-pameran kreatif ataupun pameran produk-produk pangan.