Brilio.net - Tepung lumrah digunakan untuk membuat berbagai jenis olahan makanan. Mulai makanan gorengan hingga kue menggunakan bahan dasar tepung. Bisa dikatakan, tepung ya memang digunakan untuk bahan makanan.

Tapi, di tangan Joyce (41), warga Jalan Menur, Salatiga, Jawa Tengah tepung dimanfaatkan menjadi bahan baku souvenir. Berawal dari kesenangannya bereksperimen saat masih bekerja sebagai staf peneliti dan pengembangan bagian Sains di Sekolah Santa Laurensia, alumni Fakultas Farmasi UGM ini ahirnya bisa menemukan clay alternatif dari bahan tepung.

Istilah clay sebenarnya berarti tanah liat. Tapi dalam dunia handycraft kata clay merujuk pada malam, salah satu bahan yang liat dan mudah dibentuk untuk membuat berbagai kerainan.

Februari 2008 saat dia menonton acara pendidikan tentang sains anak-anak di TV, ia teringat sebuat teori yang perna dibaca bahwa apabila lem putin dicampur dengan tepung maka akan menghasilkan adonan liat yang ketika diangin-anginkan akan mengeras dengan sendirinya.

"Karena ia tak tahu jenis tepung yang dimaksud, ia pun bereksperimen mencari formula tepung seperti apa yang cocok," kata Joyce ketika dihubungi brilio.net, Kamis (2/4).

Saat ketemu yang cocok, adonan itu sekilas menyerupai plastisin. Adonan itu kemudian Joyce bentuk menjadi berbagai kreasi binatang dan berbagai mainan anak. Dari situlah awal usaha clay tepung Joyce berjalan.

Karena usahanya mulai berkembang bagus dan kewalahn menerima pesanan, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Semarang.

Saat ini berbagai bentuk souvenir berbahan baku clay tepung dibuat. Joyce lebih banyak menerima pesanan dalam jumlah massal seperti souvenir untuk pernikahan, ulang tahun, wisuda, dan kelahiran bayi. Harga souvenirnya pun menyesuaikan dengan model dan ukuran yang dipesan.

Saat ditanya omset, wanita kelahiran 19 Juli 1974 ini enggan menyebutkan secara gamblang. Omset usahanya ini fluktuatif, tergantung banyak sedikitnya pesanan.


"Tapi jumlah produksi tiap bulan bisa mencapai ribuan dengan harga per buah mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 200 ribu. Yang pasti lebih besar daripada saat saya menjadi dosen," terang wanita yang juga pernah jadi dosen Universitas Sanata Dharma ini.