Brilio.net - Tidak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Putra Sunan Kalijaga ini meniru cara berdakwah ayahnya yang moderat terhadap berbagai kebudayaan Jawa.

Sunan Muria yang mempunyai nama asli Raden Umar Said tak lantas mengharamkan berbagai tradisi kuno seperti adat kenduri pada hari-hari tertentu kematian anggota keluarga.

Dikutip brilio.net dari buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas, Kamis (25/3), Sunan Muria mempunyai cara dakwah yang dikenal dengan sebutan "tapa ngeli", maksudnya menghanyutkan diri dalam masyarakat.

Sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan. Daerah dakwahnya pun cukup luas, mulai dari pelosok pati, Kudus, Juwana, sampai pesisir utara lainnya.

Salah satu cara berdakwahnya ke masyarakat kelas bawah adalah dengan kesenian Jawa. Sunan Muria dipercaya sebagai pencipta tembang macapat Sinom dan Kinanti yang masih lestari hingga saat ini.

Lewat tembang-tembang itu, Sunan Muria mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam. Gaya dakwah Sunan Muria yang luwes juga ditunjukkan dengan digantinya tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan dan menyuguhkan sesaji dengan salawat dan doa. Hal itulah yang membuat ajaran Islam yang dibawa Sunan Muria mudah diterima masyarakat setempat saat itu.

Sunan Muria meninggal dan dimakamkan di Gunung Muria, tepatnya di Desa Coko, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus dengan ketinggian 845,41 mdpl.

BACA JUGA:

Di zaman Muhammad SAW, imsak ditandai selesainya bacaan quran 50 ayat

Hindari minum teh saat sahur, ini alasannya

Ini kenapa bulan dalam kalender Jawa mirip dengan kalender Hijriyah

Evolusi hijab dari masa ke masa di Indonesia, cantik dan bikin gemes

Ini proses pengamatan bulan untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal

Ini kota di Amerika yang menerapkan hukum syariah Islam